Berita Terkini

Tembus Afrika, Indonesia Ekspor 8,4 Juta Vaksin Hewan

Industri kesehatan hewan nasional kembali mencatatkan tonggak sejarah baru di pasar internasional. Kementerian Pertanian (Kementan) secara resmi melepas ekspor perdana vaksin hewan produksi PT Vaksindo Satwa Nusantara menuju empat negara di kawasan Afrika.

Pengiriman perdana ini menyasar Zambia, Uganda, Malawi, dan Republik Demokratik Kongo dari fasilitas produksi di Bogor, Kamis (24/9/2026). Selain itu, total pengapalan mencapai 8,475 juta dosis dengan nilai USD 106.875,80 atau setara Rp1,90 miliar.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, menilai penetrasi ini menjadi bukti keandalan mutu produk domestik. Menurutnya, pasar Afrika memiliki kriteria masuk yang sangat ketat.

“Ekspor vaksin ini membuktikan bahwa produk Indonesia mampu bersaing dan menembus pasar internasional. Untuk sampai ke sana, produk kita harus memenuhi persyaratan dan standar yang tidak mudah. Karena itu, capaian ini harus terus kita perluas ke semakin banyak negara,” ujar Agung.

Penetrasi Pasar Global Kian Agresif

Langkah ekspansi tersebut kian mempertegas daya saing produk veteriner Indonesia di kancah dunia. Data Kementan mencatat nilai ekspor obat hewan pada 2025 sukses membukukan USD 438,10 juta.

Selanjutnya, kinerja positif terus berlanjut pada periode Januari hingga Juli 2026 dengan torehan nilai ekspor sebesar USD 66,37 juta. Saat ini, sebanyak 95 negara telah menerima pasokan obat hewan dari Indonesia.

Oleh karena itu, pemerintah berkomitmen mendorong pelaku usaha lokal memperkuat hilirisasi bernilai tambah tinggi. Hal ini sekaligus merealisasikan arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam mendongkrak produktivitas nasional.

“Kita ingin industri vaksin dalam negeri tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan nasional, tetapi juga mengambil peran yang semakin besar di pasar global. Pemerintah akan terus mendorong dan membersamai industri agar produk Indonesia semakin luas diterima di mancanegara,” katanya.

Penguatan Riset dan Penjaminan Mutu

Presiden Direktur PT Vaksindo Satwa Nusantara sekaligus Head of Animal Health and Livestock Equipment JAPFA, Teguh Yodiantara Prajitno, menyatakan komitmen perusahaannya untuk terus berekspansi ke pasar internasional.

“Langkah penetrasi ke pasar Afrika ini merupakan komitmen berkelanjutan kami untuk menyediakan solusi pencegahan penyakit unggas yang didukung oleh riset ilmiah, pengalaman panjang, serta standar kualitas yang konsisten di tingkat global,” ujar Teguh.

Di sisi lain, Kementan terus memperkuat ekosistem pengujian mutu secara terpadu. Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) kini telah resmi diakui sebagai laboratorium rujukan vaksin hewan di tingkat ASEAN.

“Semakin kuat sistem penjaminan mutu kita, semakin besar peluang produk vaksin Indonesia diterima di lebih banyak negara,” ujar Agung.

Fondasi Ketahanan Pangan Domestik

Pengembangan vaksin hewan tidak hanya berorientasi pada devisa ekspor, melainkan juga menopang stabilitas pangan. Pengendalian penyakit hewan yang efektif secara langsung menjaga kesinambungan pasokan protein hewani masyarakat.

“Kesehatan hewan adalah bagian penting dalam menjaga produksi. Karena itu, inovasi vaksin harus terus dikembangkan untuk menjawab tantangan penyakit yang juga terus berubah,” katanya.

Pelepasan ekspor ini sekaligus memeriahkan rangkaian Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan ke-190 yang berlangsung sejak 26 Agustus hingga 26 September 2026.

“Kita ingin industri kesehatan hewan nasional semakin mandiri, inovatif, dan mampu memenuhi standar internasional. Ekspor hari ini harus menjadi dorongan untuk membawa lebih banyak produk Indonesia ke pasar dunia sekaligus memperkuat ketahanan pangan di dalam negeri,” pungkas Agung.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button