Dongkrak Daya Saing, ISWA Terapkan Metode Idola Olahan Kayu

Jakarta – Asosiasi Pengusaha Kayu Gergajian dan Kayu Olahan Indonesia (ISWA) mulai memanfaatkan teknologi teranyar bertajuk metode “Idola”. Langkah taktis ini diambil untuk mendongkrak nilai tambah sekaligus daya saing produk olahan kayu nasional di pasar global.
Melalui pendekatan inovasi teknik, material kayu kini dipacu agar memiliki mutu jauh lebih tangguh. Peningkatan kualitas tersebut mencakup aspek kekuatan mekanis, kestabilan dimensi, hingga ketahanan biologis material.
Ketua Presidium ISWA Jimmy Chandra menyampaikan metode Idola dikembangkan sebagai pendekatan teknologi modifikasi kayu untuk meningkatkan karakteristik material, termasuk kekuatan, stabilitas dimensi dan ketahanan biologis atau durability.
Kolaborasi Riset Perkuat Mutu Material
Pengembangan terobosan teknologi ini melibatkan sinergi lintas sektor secara intensif. Pihak asosiasi menggandeng Institut Pertanian Bogor (IPB), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Jaya Cemerlang Industry (JCI).
Target utama rekayasa ini berfokus pada perbaikan mutu kayu kelas rendah. Oleh karena itu, kayu rakyat yang semula berada di kelas kuat dan awet 5–4 dipacu naik ke level performa kelas 2–1.
Jimmy menyampaikan salah satu sasaran pengembangan metode ini adalah meningkatkan kualitas kayu yang sebelumnya berada pada kelas kuat/awet rendah, yakni kelas 5–4, agar dapat mencapai karakteristik kelas kuat/awet yang lebih tinggi, yaitu kelas 2–1.
Menurut dia, tantangan industri kayu saat ini tidak lagi sebatas menghasilkan bahan baku, tetapi bagaimana mengolahnya menjadi material berkinerja tinggi dengan nilai ekonomi lebih besar.
Optimalisasi Potensi Kayu Tanaman Rakyat
Sektor gergajian dan kayu olahan memegang peranan krusial sebagai penopang utama aneka industri hilir, seperti furnitur dan komponen hunian. Selain itu, potensi kayu hutan tanaman rakyat sangat terbuka lebar sebagai pasokan masa depan yang berkelanjutan.
Namun, menurutnya kayu tanaman masih memiliki keterbatasan dari sisi sifat alaminya. Oleh karena itu, teknologi modifikasi kayu dapat digunakan untuk meningkatkan performa material tanpa mengubah identitas kayu tersebut.
Selanjutnya, transformasi paradigma pelaku usaha terus didorong secara berkesinambungan. Paradigma lama yang melihat kayu sekadar komoditas mentah kini diarahkan menjadi produk material bernilai ekonomi tinggi.
Penerapan teknologi baru ini juga menyasar efisiensi bahan baku secara ketat menuju prinsip nol limbah (zero waste). Alhasil, produk akhir tidak hanya bersaing pada harga jual, melainkan pada keunggulan mutu produk.
Hilirisasi dan Penguatan Rantai Pasok
Di sektor hilir, peningkatan performa material membuka lebar peluang serapan pasar. Produk modifikasi kini dapat diaplikasikan pada decking, moulding, konstruksi bangunan, hingga interior dan eksterior modern.
Jimmy menekankan inovasi tidak boleh berhenti di laboratorium, dan menegaskan hasil penelitian harus diterjemahkan menjadi proses industri yang efisien, konsisten dan dapat diproduksi dalam skala lebih besar.
Langkah hilirisasi kayu ini sejalan dengan data pertumbuhan ekonomi nasional. Berdasarkan catatan Kementerian Perindustrian pada semester I 2025, sektor agro—termasuk kayu olahan—menyumbang 52,07 persen terhadap PDB industri nonmigas serta tumbuh positif 4,99 persen.
Sumber: ANTARANEWS



