BSI dan BSN Dinilai Jadi Pengungkit Pembiayaan Perumahan Syariah Nasional
JAKARTA — Center for Sharia Economic Development (CSED) INDEF menilai keberadaan Bank Syariah Indonesia (BSI) dan Bank Syariah Nasional (BSN) berpeluang menjadi pengungkit utama pembiayaan perumahan syariah di Indonesia. Sektor perumahan dinilai strategis karena memiliki efek berganda yang kuat terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Ekonom CSED INDEF Handi Risza menyatakan, penguatan perbankan syariah nasional perlu diarahkan ke sektor riil yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Pembiayaan perumahan syariah disebut memiliki potensi besar sebagai motor pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
“Kelahiran Bank Syariah Nasional (BSN) juga berpotensi memperbesar efek berganda pembiayaan perumahan sebagai pengungkit utama pertumbuhan ekonomi,” ujar Handi dalam Catatan Akhir Tahun Ekonomi Syariah di Jakarta. Dikutip dari republika.co.id
INDEF mencatat, perkembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia selama ini lebih dulu tumbuh di sektor keuangan dan kini mulai bergerak ke sektor riil. Pembiayaan perumahan dinilai menjadi pintu masuk strategis agar ekonomi syariah dapat masuk ke arus utama perekonomian nasional.
Dari sisi kelembagaan, BSI yang kini berstatus sebagai bank badan usaha milik negara (BUMN) dan tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara dinilai memiliki sovereign backing yang kuat. Dukungan tersebut memperbesar kapasitas pembiayaan jangka panjang, termasuk untuk sektor perumahan berbasis syariah.
Selain BSI, beroperasinya BSN pasca spin-off dari PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk turut menambah kapasitas industri perbankan syariah nasional. Kehadiran bank umum syariah baru ini dinilai memperluas ruang ekspansi pembiayaan perumahan syariah di Tanah Air.
INDEF menilai penguatan pembiayaan perumahan syariah relevan untuk menjawab masih rendahnya tingkat inklusi keuangan syariah nasional. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan OJK 2025, tingkat literasi keuangan syariah tercatat sebesar 43,42 persen, sementara tingkat inklusi baru mencapai 13,41 persen.