Kadin Jatim Minta Proyek Investasi Beri Kepastian Bagi Investor

Kekayaan potensi ekonomi suatu daerah ternyata bukan lagi magnet tunggal bagi pemodal. Sebaliknya, investor kini menuntut kepastian eksekusi proyek secara menyeluruh di lapangan sebelum menanamkan modal mereka.
Ketua Umum Kadin Jawa Timur Adik Dwi Putranto menegaskan bahwa kalkulasi bisnis pemodal sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur, perizinan, hingga ketersediaan rantai pasok lokal.
“Potensi investasi tidak sama dengan kesiapan investasi. Investor tidak menanamkan modal hanya karena ada potensi, tetapi membutuhkan jalur yang jelas menuju operasi dan ekspansi,” kata Adik saat menjadi narasumber dalam dialog bertema Empowering East Java as Indonesia’s New Growth Engine through Strategic and Sustainable Investment, rangkaian East Java Investment Forum (EJIF) 2026, Sabtu (2/10/2026).
Jawa Timur sendiri menyumbang 14,34 persen terhadap total PDRB 38 provinsi di Indonesia. Selain itu, arus investasi menopang sekitar 27 persen denyut ekonomi provinsi ini.
Capaian tersebut terbukti dari realisasi investasi triwulan II 2026 yang menembus Rp40,1 triliun. Namun, besarnya angka tersebut menuntut kesiapan proyek yang jauh lebih terukur.
Menepis Ketidakpastian Eksekusi Proyek
Investor kerap mengalkulasi perbandingan antarwilayah berdasarkan efisiensi biaya, kapabilitas konektivitas, serta kepastian regulasi. Oleh karena itu, ketidakjelasan status proyek sering kali menjadi penghambat utama masuknya dana segar.
“Biaya bisa dihitung, tetapi ketidakpastian jauh lebih sulit dihitung oleh investor. Karena itu, kepastian menjadi salah satu faktor penting dalam keputusan investasi,” ujarnya.
Tahapan investasi harus bergerak mulus dari pemetaan potensi menuju penyediaan lahan, infrastruktur, utilitas, dan legalitas. Selanjutnya, komitmen modal perlu segera bermuara pada konstruksi fisik dan penyerapan tenaga kerja.
Oleh sebab itu, setiap tawaran portofolio harus mampu memuaskan tahapan uji tuntas atau due diligence. Kesiapan dokumen mencakup jadwal konstruksi, proyeksi pasar, pembagian risiko, hingga penanggung jawab operasional.
“Pertanyaan due diligence investor harus dapat dijawab dalam hitungan hari, bukan bulan. Ini bagian penting dari kesiapan proyek agar investor mendapatkan kepastian sebelum mengambil keputusan,” kata Adik.
Memperkuat Rantai Pasok Lokal
Jawa Timur memiliki posisi strategis sebagai koridor industri dan hub logistik nasional. Peluang yang ditawarkan forum mencakup hilirisasi, agroindustri, kawasan ekonomi khusus, hingga industri kreatif.
Kendati demikian, daftar peluang tersebut wajib dikemas menjadi portofolio yang bankable. Langkah ini memastikan proyek mampu menghasilkan nilai ekonomis jangka panjang yang berkesinambungan.
Keberhasilan ekspansi modal sejatinya tidak hanya diukur dari nominal rupiah yang masuk. Sebaliknya, dampak nyata justru terasa ketika investasi berhasil menggerakkan rantai pasok pelaku usaha daerah.
“Investasi berkualitas tidak boleh menjadi enclave. Investasi harus menciptakan nilai tambah lokal, mulai dari pemasok, UMKM, tenaga kerja vokasi, logistik dan jasa hingga peluang ekspor,” ujarnya.
Kadin Jawa Timur berkomitmen menjadi jembatan strategis antara investor, pemerintah daerah, dan pelaku industri lokal. Peran ini meliputi peninjauan kesiapan lahan hingga pendampingan purnajual atau aftercare.
Menjaga Kepastian Tindak Lanjut
Adik mengusulkan skema tindak lanjut yang terstruktur pascaforum promosi. Pada 30 hari pertama, tim kerja harus segera memetakan seluruh pertanyaan pemodal.
Selanjutnya, verifikasi lapangan dilakukan pada hari ke-31 hingga ke-60 demi memperbarui validitas izin serta pasokan utilitas. Kemudian, hari ke-61 sampai ke-90 difokuskan untuk mempertemukan pemilik proyek dengan lembaga pembiayaan.
“Setelah forum, kebutuhan utama investor adalah penanggung jawab yang jelas, data yang jelas, tanggal yang jelas, dan jalur eskalasi yang kredibel. Dengan begitu, momentum promosi investasi bisa benar-benar berlanjut menjadi eksekusi di lapangan,” pungkas Adik
