Tidak Perlu ke Kota! Usaha Booth Portable dari Desa Ini Bikin Kaya & Serap Puluhan Pengangguran
Banyak UMKM punya masalah yang mirip: produk sudah jadi, tapi pemasaran seret. Berbeda dengan itu, Iemahkai—sebuah industri kerajinan kayu dari Kampung Glewang, Desa Bener, Majenang, Cilacap—justru mengalami kondisi kebalikannya: order mengalir deras, antrean bisa lebih dari 40 hari, dan permintaan datang bukan hanya dari Indonesia, tetapi juga dari luar negeri.
Salah satu kunci yang membuat Iemahkai menonjol adalah produk booth portable. Bukan sekadar barang, booth portable diposisikan sebagai “solusi” bagi orang yang ingin memulai usaha dengan modal lebih terjangkau, tetapi tetap terlihat profesional.
Iemahkai: UMKM Kerajinan Kayu Berbasis Sociopreneur
Cahyono Perdana, pemilik Iemahkai, membangun usaha ini dengan pendekatan yang tidak hanya mengejar laba. Ia menanamkan target sosial yang jelas: zero pengangguran di Kampung Glewang. Artinya, kesuksesan Iemahkai tidak diukur dari seberapa mewah rumah pemiliknya, melainkan dari seberapa besar dampaknya bagi warga sekitar.
Di workshop Iemahkai, banyak anak muda yang sebelumnya menganggur—bahkan ada yang lulusan SD atau SMP—dibina sampai punya keterampilan dan penghasilan. Uniknya, di sana tidak ada “tukang kayu dari lahir”. Hampir semuanya hasil belajar, latihan, dan bertumbuh bersama.
Dari Modal Kecil, Lahir Produk Andalan: Booth Portable
Awal perjalanan Iemahkai tidak dimulai dengan modal besar. Cahyono bercerita bahwa ia pernah berada di titik hanya punya sekitar belasan juta rupiah untuk membeli peralatan sederhana. Ia belajar otodidak: memotong, mengamplas, merakit, sampai akhirnya berani merekrut karyawan pertama—tetangga yang sedang menganggur.
Dari proyek kecil seperti membuat gantungan baju untuk toko milik temannya, pelan-pelan kepercayaan diri tumbuh. Tim bertambah, workshop makin aktif, dan pada akhirnya Iemahkai menemukan produk yang benar-benar “meledak” di pasar: booth portable.
Produk booth portable ini disebut sudah terjual hingga ribuan unit. Bukan tanpa alasan—karena booth portable menawarkan jalan cepat untuk memulai bisnis tanpa harus sewa kios mahal atau renovasi tempat.
Kenapa Booth Portable Jadi Favorit?
Ada beberapa alasan mengapa booth portable begitu diminati:
1) Modal usaha lebih ramah di kantong
Dengan kisaran biaya yang masih terjangkau untuk sebuah “gerai siap pakai”, booth portable membantu orang memulai usaha tanpa beban awal yang terlalu berat.
2) Mudah branding, mudah ganti konsep
Konsep booth portable memungkinkan pemilik usaha mengganti tema/branding tanpa harus membangun dari nol. Hari ini bisa untuk kopi, besok bisa untuk makanan ringan, lusa bisa untuk minuman—lebih fleksibel untuk trial and error.
3) Dipercaya berbagai brand
Kepercayaan pasar juga terbentuk karena booth portable dari Iemahkai pernah menangani permintaan dari berbagai brand dan pelanggan skala besar, lalu berkembang hingga order internasional.
Order Luar Negeri dan Peluang Harga yang Jauh Lebih Tinggi
Iemahkai sudah mengirim booth portable ke berbagai negara seperti Brunei Darussalam, Singapura, Timor Leste, bahkan beberapa negara Eropa dan Amerika. Salah satu hal yang menarik perhatian Cahyono adalah perbedaan harga: booth portable yang di Indonesia berada di kisaran jutaan rupiah, di luar negeri nilainya bisa berkali-kali lipat.
Faktor utamanya adalah biaya tenaga kerja di luar negeri yang jauh lebih tinggi. Karena itu, banyak pihak luar memilih mencari produk dari Indonesia yang dinilai lebih kompetitif—dan Iemahkai melihat peluang tersebut sebagai jalan memperbesar dampak sosial (misalnya menaikkan gaji tim dan memperluas lapangan kerja).
Strategi Marketing: Lebih Pilih Konten Organik daripada Iklan
Alih-alih mengandalkan iklan berbayar sebagai mesin utama, Iemahkai memilih membangun pemasaran lewat konten. Dana yang biasanya dipakai untuk ads dialihkan untuk:
- merekrut tim konten kreatif,
- menyiapkan alat (kamera dan kebutuhan produksi konten),
- membuat materi yang serius dan konsisten.
Hasilnya, pertumbuhan terjadi secara organik dan terasa lebih “panjang napasnya”.
Namun, ada pelajaran penting saat konten mereka sempat meledak: ketika permintaan masuk besar-besaran, sistem belum siap. Nomor yang dicantumkan masih nomor pribadi, pesan menumpuk, banyak tidak terbalas, dan citra profesional sempat terganggu. Dari situ, Cahyono menekankan prinsip: jangan mengejar ramai kalau energi dan sistem belum kuat—lebih baik rapikan proses dulu.
Sistem SDM: “Nyaman Dulu, Baru Bisa”
Cara Iemahkai membina karyawan cukup khas. Karyawan baru tidak dituntut langsung mahir. Fokus awalnya adalah membuat mereka nyaman: nyaman dengan pekerjaan, lingkungan, senior, bahkan dengan pemilik.
Setelah nyaman, barulah kemampuan dibangun bertahap. Rekrutmen juga dilakukan satu per satu per divisi, supaya proses mentoring berjalan rapi. Ketika satu orang sudah cukup kuat, ia naik level menjadi senior dan mengajari anggota berikutnya.
Bagi Cahyono, Iemahkai bukan tempat untuk “mengubur mimpi” anak muda desa. Kalau ada yang punya potensi besar dan ingin berkembang di luar—melamar ke perusahaan besar atau jalur karier lain—justru didorong. Imah Kai diposisikan sebagai “batu loncatan” yang memberi keberanian dan skill.
Tantangan UMKM: Plagiarisme dan “Main Comot”
Di tengah pertumbuhan, Iemahkai juga menghadapi masalah yang sering dialami pelaku usaha kreatif: karya dicuri. Foto, video, bahkan ide produk dipakai orang lain untuk jualan di marketplace atau media sosial—kadang terang-terangan meski sudah ada watermark.
Sikap yang diambil Cahyono cukup tegas tapi realistis: tetap mengingatkan, namun juga menyiapkan “ruang sabar dan ikhlas” agar tidak habis energi karena sakit hati. Ia percaya, selama sistem kuat dan kualitas dijaga, bisnis akan tetap punya jalannya.
Fondasi Bisnis yang Jarang Dilakukan UMKM: Pencatatan Keuangan Detail
Salah satu prinsip paling ditekankan adalah pencatatan keuangan. Banyak UMKM menunda pembukuan karena merasa bisnis masih kecil atau bisnis keluarga. Di Iemahkai, sejak awal setiap pengeluaran dicatat—sekecil apa pun.
- Manfaatnya terasa nyata:
- bisa menentukan harga jual dengan tepat,
- bisa menghitung break even point,
- bisa mengambil keputusan rekrutmen atau kenaikan gaji berdasarkan data,
- dan yang menarik: pemilik pun “digaji” secara jelas, bukan asal ambil dari kas usaha.
Kualitas Produk: Kayu Oven, Material Premium, dan Detail Produksi
Karena fokus pada kualitas, Iemahkai menggunakan material yang diproses dengan standar tertentu, termasuk kayu yang dioven agar lebih stabil, lebih tahan hama, dan lebih mudah finishing. Untuk booth portable, materialnya bisa berupa kombinasi plywood, pinewood, HPL, finishing cat, hingga material tambahan sesuai kebutuhan desain.
Konsekuensinya, harga produk memang tidak bisa disamakan dengan produk murah. Tetapi bagi Iemahkai, material premium adalah bagian dari janji kualitas—dan justru itulah yang membuat booth portable mereka dipercaya banyak pelanggan.
Dari Desa, Membuka Harapan: Pelajaran Besar dari Booth Portable
Di akhir cerita, pesan Iemahkai terasa kuat: dari kampung sekalipun, usaha bisa berdampak luas—asal punya visi, sistem, dan konsistensi. Booth portable adalah simbol dari itu: produk sederhana yang dibuat dengan niat besar—membantu orang memulai usaha dan mengurangi pengangguran.
Bayangkan jika setiap dusun punya satu UMKM yang menyerap puluhan tenaga kerja. Dampaknya bukan sekadar angka omzet, tetapi terbentuknya ekosistem desa yang lebih mandiri dan produktif.
Iemahkai membuktikan bahwa “usaha dari desa” tidak harus kecil. Dengan produk seperti booth portable, strategi konten yang tepat, pembukuan rapi, dan misi sosial yang nyata, sebuah workshop di kampung pun bisa menembus pasar internasional—sambil tetap menjaga tujuan utamanya: menghidupkan harapan bagi banyak orang.
