Menguji Nyali MICE Makassar Lewat Gelaran Akbar Nasional
Makassar – Penyelenggaraan agenda raksasa berskala nasional sering kali menjadi indikator krusial bagi kesiapan infrastruktur ekonomi suatu daerah. Oleh karena itu, momentum perhelatan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-54 yang bersanding dengan HUT Dekranas ke-46 di Makassar pada 9–12 Juli 2026 menjadi panggung pembuktian krusial bagi Sulawesi Selatan. Selain menjadi ajang seremonial, perhelatan ini memikul ekspektasi besar untuk memacu denyut nadi perekonomian lokal melalui perputaran modal dari ribuan perwakilan provinsi.
Menakar Dampak Ekonomi Lima Ribu Tamu Nusantara
Kehadiran arus wisatawan masif diproyeksikan langsung mengubah peta konsumsi harian di Kota Daeng. Berdasarkan data panitia, estimasi kedatangan mencapai 5.000 peserta yang akan memadati Makassar selama hampir sepekan. Sektor informal seperti pusat oleh-oleh, warung kuliner khas, armada transportasi, hingga ekosistem perhotelan dipastikan meraup lonjakan omzet secara simultan. Selanjutnya, kolaborasi erat ini diharapkan tidak berhenti sebagai transaksi jangka pendek, melainkan bertransformasi menjadi investasi pariwisata berkelanjutan.
“Kami berharap Sulawesi Selatan tidak hanya sukses sebagai penyelenggara, tetapi juga memperoleh manfaat nyata dari sisi ekonomi, sosial, budaya, dan promosi potensi daerah, khususnya produk kriya dan wastra unggulan,” kata Sukarniaty, Jumat (26/6/2026).
Kebangkitan Wastra Lokal untuk Menembus Pasar Global
Sulawesi Selatan sebenarnya menyimpan kekayaan intelektual wastra yang sangat kompetitif di luar kain sutra yang sudah populer. Melalui ruang pameran berskala nasional ini, produk eksotis seperti tenun Rongkong, kain tope, hingga kain Kajang mendapatkan panggung utama penentu daya saing. Selain itu, jejaring pemasaran baru antardaerah diharapkan lahir dari proses kurasi produk kriya dan marmer unggulan tersebut selama pameran berlangsung.
“Harapan kami, pelaku UMKM dapat memperluas pasar, membangun kemitraan dengan daerah lain, meningkatkan kualitas produk, sekaligus memperkuat daya saing agar mampu bersaing di tingkat nasional bahkan global,” katanya.
Menegaskan Posisi Makassar Sebagai Episentrum Industri MICE
Kemampuan mengeksekusi agenda ganda sebesar ini otomatis menaikkan posisi tawar Sulawesi Selatan dalam peta industri MICE nasional. Wilayah timur Indonesia kini tidak lagi sekadar menjadi penonton arus modal, tetapi aktif menawarkan kepastian iklim usaha yang sehat. Pada akhirnya, kesuksesan agenda promosi ini akan diuji oleh seberapa konsisten stimulus ekonomi riil ini bertahan pasca-acara penutupan digelar.
“Meski berada di Kawasan Timur Indonesia, kami ingin menunjukkan bahwa Sulawesi Selatan siap menjadi tuan rumah berbagai agenda nasional sekaligus memperkuat posisinya sebagai pusat perdagangan, budaya, pariwisata, serta tujuan penyelenggaraan industri MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) di Indonesia,” kata Sukarniaty.
“Menjadi tuan rumah bukan sekadar sebuah kehormatan. Kami ingin kesempatan ini menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui penguatan ekonomi daerah, promosi potensi lokal, pemberdayaan UMKM, dan peningkatan daya saing Sulawesi Selatan. Harapannya, dampak kegiatan ini dapat terus dirasakan bahkan setelah seluruh rangkaian acara berakhir,” tuturnya.



