Fesyen Inklusif Buka Akses Ekonomi Penyandang Disabilitas

Tingkat partisipasi kerja penyandang disabilitas di Indonesia masih tergolong sangat minim. Data Kementerian Ketenagakerjaan mencatat angka partisipasi angkatan kerja penyandang disabilitas usia produktif baru mencapai 20,14 persen dari total 17 juta jiwa pada 2025.
Oleh karena itu, hadirnya ruang berkarya yang mampu menghubungkan potensi seni dengan peluang ekonomi menjadi kebutuhan mendesak. Sektor fesyen kini menjadi salah satu jalan keluar kreatif untuk mengolah karya seni disabilitas menjadi produk komersial bernilai tinggi.
Mengubah Karya Seni Menjadi Produk Komersial
Inisiatif ini salah satunya digerakkan oleh Dama Kara melalui Dama Kara Foundation yang berdiri sejak 2024. Lembaga ini menggelar kelas menggambar dengan pendampingan art facilitator secara one on one bagi para peserta.
Selanjutnya, karya yang dihasilkan dikembangkan lebih jauh melalui pameran, lokakarya, hingga diaplikasikan ke dalam produk fesyen komersial.
Pendiri Dama Kara sekaligus CEO Dama Kara Foundation Nurdini Prihastiti menegaskan komitmennya dalam membangun ekosistem ini.
“Saya berkomitmen membuat Dama Kara sebagai sebuah wadah penyandang disabilitas ini untuk bisa berkarya dan merangkul mereka. Kami percaya bahwa sejatinya berkarya itu tidak mengenal keterbatasan,” tuturnya. Dikutip dari republika.
Menembus Pasar Internasional Lewat Wastra
Karya seni para peserta kemudian dipadukan dengan busana tradisional atau wastra. Hasilnya diterapkan pada berbagai produk unggulan seperti kebaya, baju luaran, hingga rok.
Selain itu, produk-produk unik ini telah berhasil menembus pasar internasional seperti Singapura, Malaysia, Taiwan, dan Korea Selatan. Bahkan, busana karya disabilitas ini sempat dipamerkan dalam ajang fesyen bergengsi di Prancis dan Korea Selatan.
Dini menjelaskan bahwa seluruh peserta mendapatkan pelatihan dan fasilitas penuh tanpa biaya. Sebaliknya, operasional program ini disokong langsung dari sebagian penjualan produk Dama Kara.
“Mereka tidak dipungut biaya sepeser pun. Dari proses seleksi sampai mereka berkarya, dari art fasilitator sampai alat-alat gambar, semuanya disediakan Dama Kara. Dari tiap koleksi di Dama Kara (yang terjual), kami sisihkan sebagian untuk men-support kelas teman-teman berkebutuhan khusus,” ungkapnya.
Nilai Ekonomi dan Keberlanjutan Usaha
Pada akhirnya, integrasi sosial dalam dunia bisnis bukan sekadar mengejar profit semata, melainkan membangun nilai ekonomi yang berkelanjutan. Model bisnis inklusif ini membuktikan bahwa pemberdayaan penyandang disabilitas dapat memberikan dampak nyata yang saling menguntungkan.
Dini meyakini bahwa keberlanjutan bisnis sangat bergantung pada manfaat langsung yang dirasakan oleh masyarakat.
“Sebuah bisnis akan terus ada selama dampaknya bisa dirasakan secara langsung oleh orang lain. Dama Kara saat ini terus berkembang dan bertumbuh karena teman-teman penyandang disabilitas juga membantu kita,” tandasnya.



