Berita Terkini

BI Sulsel Gandeng Kreator Konten Pacu Literasi Ekonomi Syariah

Makassar – Di era ketika jempol masyarakat lebih aktif melakukan scrolling di layar ponsel ketimbang membalik halaman surat kabar, metode penyampaian pesan-pesan substantif dipaksa untuk bermutasi. Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan menangkap realita digital ini bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai karpet merah dengan merangkul puluhan kreator konten dan insan media demi mengalirkan narasi ekonomi syariah langsung ke algoritma publik.

Pergeseran radikal dalam konsumsi informasi memicu Bank Indonesia Sulsel menggelar Training of Trainers (ToT) Konten Ekonomi Syariah sebagai bagian dari rangkaian menuju Festival Ekonomi Syariah Kawasan Timur Indonesia (FESyar KTI) 2026. Langkah taktis ini krusial mengingat penetrasi platform digital kini telah sah menjadi episentrum referensi harian masyarakat, menggeser dominasi media konvensional seperti koran dan televisi dalam membentuk opini serta gaya hidup finansial.

Keberhasilan edukasi ekonomi publik saat ini tidak lagi ditentukan oleh formalitas rilis data, melainkan oleh kelihaian mengawinkan konten menarik dengan konteks keseharian yang relevan. Sebagai contoh, sebuah konten ulasan kuliner kasual di media sosial dapat disisipi edukasi sertifikasi halal tanpa terkesan menggurui—sebuah strategi hulu ke hilir untuk memperkuat rantai pasok ekosistem pangan dan membentuk halal lifestyle di Sulawesi Selatan.

Kepala Divisi Implementasi Kebijakan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah Bank Indonesia Sulsel, Asnawi Gantina, menegaskan urgensi adaptasi taktik komunikasi ini:

“Kalau dulu masyarakat membaca koran atau menonton televisi, sekarang mereka lebih banyak terpapar media digital. Karena itu penyampaian informasi ekonomi dan keuangan syariah juga harus dilakukan dengan pendekatan yang lebih kreatif, relevan, dan mudah dipahami,” ujar Asnawi. Dikutip dari rri.co.id

Ia juga menambahkan pentingnya sinkronisasi pesan agar esensi dari nilai syariah tidak bias di ruang digital:

“Konten yang kuat tidak selalu efektif tanpa dukungan konteks yang tepat. Karena itu kami mengajak kreator konten dan media untuk tidak hanya menghasilkan konten yang menarik, tetapi juga mampu menyisipkan pesan-pesan ekonomi dan keuangan syariah,” katanya.

“Kita ingin ekosistem halal berjalan dari hulu sampai hilir. Halal lifestyle diharapkan menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Sulawesi Selatan,” tambahnya.

Selaras dengan hal tersebut, narasumber ToT, Dr. Nasrullah, menggarisbawahi definisi dasar ekonomi syariah yang harus dikemas secara membumi oleh para pelaku kreatif:

“Dalam perspektif Islam, ketika aktivitas ekonomi dilakukan sesuai dengan ajaran Islam, maka itulah yang disebut ekonomi Islam,” ujarnya.

Kolaborasi strategis ini menyisakan satu refleksi mendasar bagi kita: di tengah membanjirnya tren hiburan tanpa substansi, mampukah para kreator konten lokal mengemas prinsip ekonomi syariah yang dinilai kaku menjadi tren gaya hidup digital yang organik? Sinergi ini akan menjadi pembuktian nyata apakah ekosistem halal di wilayah Timur Indonesia benar-benar bisa tumbuh dari akar rumput digital, atau sekadar menjadi komoditas seremonial menjelang FESyar KTI 2026 di Mataram mendatang.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button