Apkasi Dorong Perdagangan Antardaerah Demi Perkuat Ekonomi Nasional
Jakarta – Ketergantungan akut pada pasar luar negeri sering kali membuat ekonomi domestik limbung saat badai krisis global menghantam. Namun, Indonesia sebenarnya memiliki senjata rahasia yang belum dioptimalkan secara penuh, yaitu kekuatan konsumsi dan produksi di tingkat kabupaten. Oleh karena itu, integrasi pasar domestik kini mendesak untuk segera diwujudkan secara masif.
Menghubungkan Daerah Surplus dan Defisit
Ketua Umum Apkasi, Bursah Zarnubi, menegaskan bahwa pasar domestik Indonesia perlu dioptimalkan melalui penguatan konektivitas perdagangan antarkabupaten, pemangkasan rantai pasok, dan percepatan hilirisasi komoditas unggulan daerah. Langkah taktis ini dipercaya mampu membentengi perekonomian nasional dari tekanan eksternal yang kian tidak menentu.
“Perdagangan antardaerah harus menjadi kekuatan ekonomi nasional,” kata Bursah, seperti dikutip dari Antara, Minggu (5/7).
Selanjutnya, Bursah menilai daerah perlu membangun jaringan ekonomi yang saling terhubung dengan mempertemukan daerah surplus produksi dan daerah yang membutuhkan pasokan. Upaya ini dinilai strategis untuk menciptakan pemerataan pembangunan yang selama ini terpusat di kota-kota besar.
“Kabupaten memiliki basis produksi pangan, pertanian, perkebunan, dan berbagai komoditas unggulan yang jika dihubungkan dengan pasar secara lebih terintegrasi akan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih merata,” ujarnya.
Hilirisasi Komoditas dan Integrasi Pasar
Selain itu, Bursah yang juga menjabat sebagai Bupati Lahat menambahkan bahwa penguatan ekonomi kabupaten perlu diarahkan pada hilirisasi agar daerah penghasil memperoleh nilai tambah yang lebih besar dari komoditas yang diproduksi. Daerah tidak boleh lagi hanya mengandalkan penjualan bahan mentah tanpa pengolahan.
“Kerja sama antardaerah harus menghasilkan transaksi nyata. Kekuatan ekonomi Indonesia dimulai dari daerah, terutama kabupaten yang selama ini menjadi sentra produksi berbagai komoditas strategis,” ujarnya.
Sebagai contoh konkret, potensi kopi di Kabupaten Lahat yang mencapai produksi sekitar 300.000 ton per tahun memiliki peluang besar untuk dikembangkan melalui industri hilir. Keberadaan industri pengolahan di dekat sentra produksi dinilai akan membawa dampak domino yang positif bagi kesejahteraan warga lokal.
“Kalau komoditas diolah di daerah asal, nilai tambahnya juga tinggal di daerah. Masyarakat mendapatkan pekerjaan, usaha baru tumbuh, dan ekonomi kabupaten menjadi semakin kuat,” tuturnya.
Konsep Supply Meeting Demand di Lapangan
Sementara itu, Direktur Eksekutif Apkasi, Sarman Simanjorang, menyatakan penguatan perdagangan antardaerah dilakukan melalui konsep supply meeting demand, yakni mempertemukan langsung potensi produksi daerah dengan kebutuhan pasar dan pelaku usaha. Beberapa daerah yang memiliki potensi besar antara lain Banyuasin, Gorontalo, Brebes, dan Deli Serdang.
“Yang ingin kita bangun adalah pertemuan langsung antara daerah yang memiliki produk dengan pihak yang membutuhkan. Dari sana harus lahir perdagangan, investasi, dan hilirisasi,” kata Sarman.
Melalui Forum Bisnis Daerah (Forbisda) bersama Kadin Indonesia di Kabupaten Deli Serdang, sejumlah kesepakatan nyata berhasil disepakati. Kerja sama tersebut meliputi pengendalian inflasi hingga pemendekan rantai pasok komoditas penting seperti bawang merah. Pada akhirnya, sinergi ini diharapkan tidak hanya berhenti di atas kertas kesepahaman semata.
“Target akhirnya bukan sekadar penandatanganan nota kesepahaman. Kita ingin ada arus barang, investasi masuk ke daerah, industri hilir tumbuh, harga lebih stabil, dan manfaat ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat,” ujar Bursah.



