Berita Terkini

Makassar Sulap Sampah Organik Menjadi Sumber Cuan Baru

Makassar – Sampah organik kini bukan lagi sekadar limbah bau yang memenuhi sudut Kota Makassar. Bank Sampah Pusat (BSP) Pemerintah Kota Makassar membuat terobosan anyar dengan resmi membeli tiga jenis hasil olahan sampah organik dari masyarakat sejak 8 Juni 2026. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa sisa makanan dan daun kering tidak sekadar menumpuk tak berguna.

Minyak jelantah memang telah lebih dulu masuk dalam sistem tata kelola komoditas BSP. Namun, penambahan tiga produk baru ini meluaskan pilihan bagi warga yang ingin mengonversi sampah menjadi uang tunai. Kompos kering sekarang dihargai Rp1.000 per kilogram, kompos basah Rp500 per kilogram, sedangkan residu bernilai tinggi seperti kasgot atau bekas maggot dipatok mencapai Rp8.000 per kilogram.

“Hasil olahan sampah organik juga kami terima sekarang,” ujar Veronica. Dikutip dari tribunnews.

“Jadi sudah empat sekarang, bersama minyak jelantah,” katanya.

Solusi Distribusi Sektor Urban Farming

Sebelumnya, para pengelola bank sampah unit (BSU) di tingkat RT/RW kerap mengalami jalan buntu saat memproduksi pupuk organik secara mandiri. Hasil olahan sisa makanan tersebut sering kali melimpah melebihi kebutuhan konsumsi harian pertanian perkotaan lokal. Oleh karena itu, skema pembelian terpusat ini hadir sebagai jawaban taktis untuk menjamin kepastian pasar di hulu.

Pemerintah daerah berharap adanya stimulus finansial ini dapat mendongkrak partisipasi aktif warga dalam memilah sampah dari dapur rumah tangga mereka. Selain itu, petugas penjemputan lapangan juga telah dibekali kompetensi khusus agar mampu melakukan validasi kualitas produk organik yang disetorkan warga.

“Itu bekas maggot yang sudah bersih, sudah kering, sudah diayak, harganya Rp8.000 per kilo,” ujarnya.

“Supaya masyarakat yang mengelola sampah organik tidak lagi risau hasil olahannya mau disalurkan ke mana. Sekarang ada nilainya,” katanya.

Revitalisasi Ribuan Unit Bank Sampah

Mekanisme insentif ekonomi ini terbukti ampuh memicu lonjakan jumlah partisipasi kelembagaan masyarakat di lapangan. Data internal mencatat pertumbuhan jumlah bank sampah unit yang melesat tajam dari 300 unit pada Mei menjadi lebih dari 600 unit dalam waktu singkat. Selanjutnya, tantangan terbesar pemerintah adalah menjaga konsistensi keaktifan sirkular dari unit-unit baru tersebut agar tidak mati suri.

Pada akhirnya, visi jangka panjang pengelolaan lingkungan ini ditargetkan agar TPA Tamangapa hanya menerima sampah kategori residu yang benar-benar tidak bisa didaur ulang. Melalui penguatan ekosistem hulu ke hilir, Makassar sedang memimpin transisi menuju kota hijau yang mandiri secara sirkular.

“Sekarang sudah lebih dari 600. Meski begitu, kami tetap terus dorong supaya bank sampah yang sudah terbentuk benar-benar aktif,” ujarnya.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button