Berita Terkini

Menperin Dorong IKM Naik Kelas Tembus Pasar Global

Jakarta – Peluang ekspor kini bukan lagi monopoli korporasi raksasa. Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian kian gencar mendorong industri kecil dan menengah untuk memperluas jangkauan ke pasar internasional. Penguatan daya saing dilakukan melalui pemanfaatan ekosistem digital.

Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menegaskan bahwa potensi 4,43 juta unit IKM nasional harus dimaksimalkan secara terarah.

“Kita bisa konsentrasi pada industri kecil dan menengah yang berorientasi ekspor. Karena di era sekarang, orang bisa berjualan secara online sampai ke luar negeri. Ada teman saya yang bahkan menjual dawet sampai ke Hong Kong. Jadi, urusan ekspor jangan hanya menjadi domain industri besar, tetapi industri kecil dan menengah juga harus bisa,” kata Menperin dalam rapat kerja internal dengan Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) di Jakarta, Rabu (7/10).

Selain itu, penetrasi produk lokal ke mancanegara memiliki dampak strategis yang lebih luas. Langkah ini dapat berfungsi sebagai sarana diplomasi lunak untuk memperkenalkan kebudayaan nusantara.

“Dalam konteks tertentu, ini juga bisa menjadi soft diplomacy. Produk-produk kita yang masuk ke luar negeri membawa identitas Indonesia. Jadi, nilai yang dibawa bukan hanya ekonomi, tetapi juga pengenalan Indonesia kepada masyarakat global,” ujarnya.

Selanjutnya, Sarmuji menggarisbawahi pentingnya indikator keberhasilan intervensi pemerintah yang terukur. Pembinaan tidak boleh selesai sebatas kegiatan pelatihan seremonial.

“Kita perlu identifikasi apakah yang kita lakukan terhadap IKM benar-benar bisa membuat mereka naik menjadi lebih tinggi. Misalnya, industri kecil bisa naik menjadi industri menengah. Jadi, pembinaan itu harus terlihat hasil akhirnya dan kita bisa mengukur perkembangannya,” tegas Sarmuji.

Oleh sebab itu, pemetaan difokuskan pada unit usaha yang mempunyai keunggulan komparatif serta kompetitif.

“Kita identifikasi industri-industri yang punya keunggulan kompetitif dan komparatif, meskipun wujudnya industri kecil dan menengah. Kalau memang punya keunggulan dan potensi pasar yang kuat, itu yang perlu kita dorong dan akselerasi,” katanya.

Strategi Menjawab Tantangan Integrasi Pasar Global

Namun, upaya akselerasi tersebut tetap menghadapi sejumlah kendala lapangan. Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita memaparkan setidaknya delapan tantangan utama, mulai dari permodalan, adopsi teknologi, standardisasi, hingga gempuran barang impor murah.

“Untuk menciptakan daya saing bisnis yang berkelanjutan, dibutuhkan pendekatan yang holistik. Pembinaan perlu mencakup hilirisasi komoditas unggulan, adopsi teknologi dan inovasi produk, serta peningkatan kapasitas modal dan SDM,” ujar Reni.

Oleh karena itu, penguatan kemitraan menjadi jalan pintas bagi IKM agar mampu masuk ke rantai pasok industri besar. Melalui skema ini, pelaku usaha memperoleh kepastian pasar sekaligus standar mutu yang ketat.

Hingga triwulan III 2026, tercatat 203 IKM telah mengikuti temu bisnis dan 313 IKM menerima fasilitasi ekspor. Dari angka tersebut, sebanyak 98 pelaku usaha berhasil mengirim produknya ke luar negeri, sementara 215 lainnya terus disiapkan.

“Potensi IKM untuk masuk pasar global masih sangat besar. Karena itu, pembinaan perlu kita kawal dari peningkatan kapasitas produksi, kualitas dan standardisasi produk sampai kepada akses pasar dan pertemuan dengan calon pembeli,” jelas Reni.

Pada akhirnya, realisasi program prioritas seperti literasi digital e-Smart hingga restrukturisasi mesin melampaui target tahunan. Capaian ini menjadi modal penting untuk memperkokoh struktur manufaktur nasional hingga penutup tahun.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button