7 Modus Baru Penipuan WhatsApp 2026, Rekening Bisa Ludes Tanpa Sadar!

Jakarta – Pengguna WhatsApp diminta semakin waspada. Pasalnya, penipuan lewat aplikasi ini makin sering terjadi.
Pesan dari nomor asing kini tidak bisa dianggap sepele. Banyak pelaku kejahatan siber memanfaatkan kelengahan pengguna untuk mencuri data dan uang.
Salah satu modus yang paling sering muncul adalah pengiriman file berformat APK. File ini biasanya dikirim secara acak dan terlihat meyakinkan.
Pelaku sengaja memancing rasa penasaran korban. Mereka ingin korban mengunduh dan memasang aplikasi berbahaya.
Jika file APK dibuka, ponsel bisa langsung disusupi malware. Setelah itu, pelaku dapat mengambil data penting dari perangkat.
Kejahatan ini dikenal sebagai phishing. Metodenya mirip seperti tautan palsu yang sering muncul lewat email.
Tujuan akhirnya sangat serius. Pelaku ingin mengambil alih akun keuangan dan membajak akses pribadi korban.
Berikut ini 7 modus penipuan terbaru lewat WhatsApp yang wajib diwaspadai.
1. Modus Kurir Kirim Paket
Modus ini sering memakai nama jasa pengiriman, seperti J&T. Pelaku mengaku sebagai kurir dan mengirim file APK.
Nama file biasanya dibuat meyakinkan. Contohnya seperti “Lihat Foto Paket”.
Jika korban mengunduh file tersebut, data bank bisa dicuri. Uang dalam rekening juga berisiko terkuras.
2. File Undangan Pernikahan Digital
Modus undangan nikah palsu juga kembali marak. Banyak pengguna WhatsApp menerima file APK dari nomor tak dikenal.
Judul file biasanya dibuat romantis. Misalnya “Surat Undangan Pernikahan Digital”.
Ukuran file pun terlihat kecil, sekitar 6 MB. Namun isinya adalah malware yang berbahaya.
Korban diminta membuka file untuk mengecek undangan. Setelah itu, ponsel bisa langsung dikendalikan pelaku.
3. Surat Tilang Palsu
Penipu juga memanfaatkan ketakutan soal tilang. Korban dikirimi file APK berjudul “Surat Tilang-1.0.apk”.
Pesan dibuat seolah resmi. Namun sebenarnya itu jebakan.
Warganet pun banyak mengingatkan agar tidak mengunduh file APK. Terutama jika pengirimnya tidak dikenal.
Jika file dibuka, data korban bisa bocor. Akses rekening juga dapat diambil alih.
4. Modus Mengatasnamakan MyTelkomsel
Modus lain memakai nama aplikasi MyTelkomsel. Pelaku mengirim file APK dan meminta korban menginstalnya.
Setelah itu, korban diminta memberi izin akses. Misalnya akses foto, video, SMS, dan aplikasi lain.
Izin ini sangat berbahaya. Karena pelaku bisa membaca OTP dan mengakses layanan keuangan korban.
5. Pengumuman Palsu dari Bank
Modus ini memakai pesan yang terlihat seperti pengumuman resmi bank. Isinya biasanya soal perubahan tarif transfer atau biaya transaksi.
Angkanya sering dibuat tidak masuk akal. Namun banyak korban tetap panik dan percaya.
Korban kemudian diminta mengklik link formulir. Jika link dibuka, data pribadi akan dicuri.
6. Undangan Video Call Sex (VCS)
Modus VCS juga makin sering terjadi. Pelaku melakukan panggilan video dari nomor tak dikenal.
Jika korban mengangkat, pelaku bisa merekam aktivitas korban. Setelah itu, korban akan diperas.
Pakar keamanan siber Alfons Tanujaya menyebut modus ini termasuk pemerasan digital. Pelaku memanfaatkan ketidaktahuan korban soal teknologi.
Ia menyarankan korban segera meminta bantuan orang yang paham. Jangan menuruti ancaman pelaku.
7. Kuras Rekening Lewat Kode QR (Quishing)
Modus terbaru disebut quishing, gabungan QR code dan phishing. Pelaku memancing korban agar memindai QR code tertentu.
Saat QR dipindai, korban akan diarahkan ke situs tertentu. Situs ini bisa melacak informasi perangkat korban.
Bahkan, pelaku bisa mengarahkan korban ke situs palsu. Dari situ, korban diminta memasukkan data login.
Jika data dimasukkan, akun korban bisa langsung diambil alih. Risiko rekening terkuras pun sangat tinggi.
Quishing makin marak karena QR code mudah dibuat. Bahkan orang awam bisa membuatnya dalam hitungan menit.
Cara Menghindari Penipuan Quishing dan Modus WhatsApp Lainnya
Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan agar lebih aman. Jangan percaya QR code yang ditempel di tempat umum.
Selain itu, jangan mudah panik saat menerima pesan mendesak. Penipu sering memakai kata-kata yang menekan psikologis korban.
Contohnya seperti ancaman akun akan diblokir. Atau perintah memindai QR untuk verifikasi.
Terakhir, aktifkan autentikasi dua faktor pada semua akun penting. Cara ini bisa menambah perlindungan dari pembajakan.
Dengan kewaspadaan, risiko menjadi korban penipuan WhatsApp bisa ditekan. Jangan mudah klik link atau unduh file dari nomor asing.


